“Pikiran kerap hanya terbangun oleh tempelan-tempelan yang kita ambil atau dipaksa masuk oleh sekitar kita. Sementara tubuh selalu diperlakukan sebagai pengikut pikiran. Ia tak hadir dengan kewenangan. Maka ketika tubuh bergerak sendiri, lepas dari pikiran, selalu dianggap sebagai pembangkangan.”
– Sasana, Pasung Jiwa, halaman138.
Dua buah novel ini saya baca dalam rentang waktu yang cukup berjauhan. Cantik itu Luka, adalah buku yang baru selesai saya baca. Sementara Pasung Jiwa saya baca sekitar lima bulan lalu. Cukup lama ternyata, ckckckck.
Sejujurnya, saya merasa was-was saat membaca dua novel ini. Selain karena tebal halamannya, judul dan covernya tidak terlalu menarik perhatian saya. Terlepas dari ulasan beratus-ratus orang yang memuji dua novel ini, saya benar-benar harus memaksa diri saya untuk membaca dan menyelesaikannya.